Cerita Mesum Nyata kali ini berjudul "Bercinta dengan Kakak Kelas yang Hot". sebut saja namaku Arjuna, saya bersekolah di negeri tetangga karena mengikuti pekerjaan ayahku yang berpindah-pindah lokasinya. saya masuk ke salah satu sekolah di negeri tetangga dan duduk di kelas 1 SMA. pertama kali sekolah disana saya merasa takut tapi akhirnya aku terbiasa juga. berikut cerita selengkapnya.
Aku ingat benar pada hari aku masuk sekolah saat waktu upacara hari senin, aku
melihat seorang teman wanita yang mana dia kelihatan sangat terburu buru karena sedikit
telat dalam upacara, aku melihat dia dalam hati bicara cantik juga cewek
itu, setelah aku mendapat info ternyata dia adalah kakak kelas ku dan dia kelas 3
namanya Nara.
"Cute juga nama dia".
Tiba -tiba dari belakang ada rekan sekelas memegang bahu aku.
"Ngapain kamu nanyain tentang kakak aku?".
Buset dah, kaget aku. Aku cuma takut dipukulin soalnya dia 'gangster' di sekolahan.
"Ah..enggak kok. Nanya doank" kata aku dengan gementar.
Balik dari sekolah aku terus ngebayangin tuh cewek. Aku tidak bisa ngilangin dia dari pikiranku. Gila cantik banget. Bibirnya yang kecil dan tipis, buah dadanya yang montok (mungkin boleh dibilang lebih besar dari ukuran teman sebayanya), betisnya yang putih dan mulus, pokoknya sangat sempurna. Aku cuma bisa ngebayangin kalau dia mau sama aku.
Di suatu pagi yang cerah, aku sama nyokap pergi ke deretan toko-toko di deket rumah. Maksudnya sih mau nyari toko musik, soalnya aku mau belajar main gitar.
Setelah kira-kira 1 bulan baru aku tau bahwa guru gitar aku sama dengan adiknya Nara. Terus guru aku tuh nyaranin kita berdua ngadain latihan bersama di rumahnya. Aku girang banget. Mungkin ada kesempatan aku ngeliatin wajah cantik kakaknya. Yah.. walaupun kagak "buat", ngeliat wajahnya juga udah cukup.
"Cute juga nama dia".
Tiba -tiba dari belakang ada rekan sekelas memegang bahu aku.
"Ngapain kamu nanyain tentang kakak aku?".
Buset dah, kaget aku. Aku cuma takut dipukulin soalnya dia 'gangster' di sekolahan.
"Ah..enggak kok. Nanya doank" kata aku dengan gementar.
Balik dari sekolah aku terus ngebayangin tuh cewek. Aku tidak bisa ngilangin dia dari pikiranku. Gila cantik banget. Bibirnya yang kecil dan tipis, buah dadanya yang montok (mungkin boleh dibilang lebih besar dari ukuran teman sebayanya), betisnya yang putih dan mulus, pokoknya sangat sempurna. Aku cuma bisa ngebayangin kalau dia mau sama aku.
Di suatu pagi yang cerah, aku sama nyokap pergi ke deretan toko-toko di deket rumah. Maksudnya sih mau nyari toko musik, soalnya aku mau belajar main gitar.
Setelah kira-kira 1 bulan baru aku tau bahwa guru gitar aku sama dengan adiknya Nara. Terus guru aku tuh nyaranin kita berdua ngadain latihan bersama di rumahnya. Aku girang banget. Mungkin ada kesempatan aku ngeliatin wajah cantik kakaknya. Yah.. walaupun kagak "buat", ngeliat wajahnya juga udah cukup.
Waktu liburan semester adiknya (Kemal) mengundang aku ke rumahnya untuk latihan gitar bersama. Terus aku tanya ada siapa aja di rumahnya.
"Aku sama kakak aku doank kok" jawabnya. Wah.. berdebar-debar nih rasanya. Tapi aku juga rasa diri aku sendiri bodoh. Soalnya dia aja kagak kenal aku, malahan cuma ngobrol sekali-sekali melalui chatting. Tapi aku tidak peduli.
Kemal sebenarnya belum pastiin kapan aku bisa datang ke rumahnya. Tapi aku tidak peduli dan datang ke rumahnya hari itu karena aku cuma ada waktu pada hari itu. Sampai di depan pagarnya aku neken bell. Kelihatannya sepi. Tiba-tiba pagar terbuka (pagar otomatis nih) terus kakaknya muncul.
"Nyari siapa?".
"Kemal" aku bilang.
"Wah, maaf, Kemalnya nggak ada tuh."
Wah.. sekarang baru aku sadar suara Nara ternyata lembut lagi 'cute'.
"Oh.. ya udah, terima kasih."
Aku muterin badan aku, belagak mau pergi gitu. Tiba-tiba suara yang lembut itu terdengar lagi.
"Eh.. nggak masuk dulu? Daripada capek bolak-balik mendingan tunggu di sini."
Wah!! Peluang emas!
Terus aku masuk dan di hidangin minuman dingin sama Nara. Terus dia duduk di hadapan aku ngajakin aku ngobrolin sesuatu. Dalam sekelip mata, pemandangan di depan aku menjadi sangat indah. Kebetulan dia memakai baju T-Shirt tipis dan skirt pendek jadi aku bisa ngeliat bahagian pahanya yang putih mulus. Sekali-sekala aku ngelirik ke bagian dada dan pahanya. Aku rasa sih dia tau tapi dia belagak nggak peduli.
"Kapan Kemal balik?" tanya aku.
"Nggak tau kayaknya sih nanti jam 6"
Aku ngelirik jam tangan aku. Sekarang jam 2 petang.
Kira-kira selama 15 menit kami ngobrol kosong. Tiba-tiba ntah gimana jam di meja sebelahnya jatuh. Kami terkejut dan dia terus membereskan benda-benda yang berserak. Dari belakang aku bisa ngeliat pinggulnya yang putih mulus.
Tiba tiba jeritan kecilnya menyadarkan lamunan aku. Ternyata jarinya terluka kena kaca. Naluri lelaki aku bangkit dan terus memegang jarinya. Tanpa pikir panjang aku isap aja darah yang ada di jarinya. Waktu darahnya udah beku aku mengangkat wajah aku. Ternyata selama ini dia ngeliatin aku. Tiba-tiba dia ngomong
"Jun, kok lu ganteng banget sih?"
Aku hanya tersipu malu. Terus aku diajakin ke tingkat atas untuk ngambil obat luka. Waktu duduk di sofa, aku usapin aja tuh obat ke jarinya. Tiba-tiba datang permintaan yang tidak disangka-sangka.
"Jun, cium aku dong, boleh nggak?".
Aku bengong doank nggak tahu mau jawab apaan. Tapi bibirnya udah deket banget ama bibir aku. Langsung aku lumat bibir mungilnya. Dia memejamkan matanya dan aku nyoba untuk mendesak lidah aku masuk ke dalam mulutnya. Dia membalas dengan melumat bibir aku.
Tanpa sadar tangan tangan aku udah merayap ke bagian dadanya dan meremas-remas payudaranya yang montok dari luar pakaiannya. Dia mendesah lirih. Dan mendengarnya, ciuman aku menjadi semakin buas.
Kini bibir aku turun ke lehernya dan kembali melumat dan menggigit-gigit kecil lehernya sambil tangan aku bergerak ke arah skirt pendeknya dan berusaha meraba-raba pahanya yang putih dan mulus.
Tiba-tiba tangannya membuka resleting celana aku dan coba meraih penisku. Aku semakin ganas. Aku elus-elus celana dalamnya dari luar dan tangan aku satu lagi meremas-remas payudaranya yang montok. Dia mendesah dan melenguh.
Akhirnya aku berhenti melumat bibir dan lehernya. Aku coba melepaskan t-shirtnya yang berwarna pink. Tetapi tangannya mencegah.
"Ke kamar aku aja, yuk!"
Ajaknya sambil menuntun tangan aku. Aku sih ikut aja. Aku kunci pintu kamarnya dan langsung aku raih t-shirtnya hingga dia hanya mengenakan bra putih dan skirt birunya. Aku kembali melumat bibirnya dan coba membuka kaitan branya dari belakang.
Sekarang dia bener-bener telanjang dada. Langsung aku lumat payudaranya. Aku remas-remas dan aku jilatin puting kiri dan kanannya.
Tanpa disadari dia mengerang.
"ummh..ahh..!"
Aku malah lebih bernafsu. Tiba-tiba tangannya yang lembut meraih penis aku yang sangat besar. Kira-kira 14 cm panjangnya. Dia langsung mengelus-elus dan mulai mengocok penis aku itu. Aku mengerang
"Ahh..Nara..terusin..ahh!"
Kira-kira 15 menit aku melumat payudaranya. Sekarang aku nyoba ngebuka skirt hitamnya. Setelah terlepas aku tidurin dia di ranjang dan kembali melumat bibirnya sambil mengusap-usap vaginanya dari luar CDnya dan tangan aku yang satu lagi memelintir puting payudara kanannya.
"Ahh.. Arjun.. ummhh!" Erangnya.
Akhirnya kami berdiri. Dia melepaskan baju dan celana aku dan meraih penis aku yang sangat tegang. Dia nyuruh aku duduk. Terus dia jongkok di depan aku. Dia nyium kepala penis aku dan menjilatnya. Kemudian die berusaha mengulum dan menghisap penis aku yang besar. Aku mengerang keenakan.
"Ummhh..Nara..!!"
Akhirnya aku nggak tahan dan menyuruhnya berhenti. Aku nggak mau keluar terlalu awal.
Terus perlahan-lahan aku lepasin celana dalam putihnya dan memandang sebuah lubang berwarna merah jambu dengan bulu-bulu yang halus dan tidak terlalu banyak di sekelilingnya. Langsung aku tidurin dan aku kangkangin kakinya.
Kelihatan vaginanya mulai merekah. Aku yang udah nggak tahan terus menjilati dan menghisap-hisap bahagian selangkangan dan menuju ke arah vaginanya. Aku isep dan jilatin klitorisnya. Nara menggelinjang keenakan sambil mendesah dan mengerang.
"Awwhh.. uhh.. Arjun..!!
Tiba tiba orgasme pertamanya keluar. Tubuhnya menggelinjang dan dia menjambak rambut aku dan sprei di ranjangnya.
Kemudian aku melebarkan kedua kakinya dan mengarahkan penis aku ke arah lubang kenikmatannya. Sebelum aku masukkin aku gesekin dulu penis aku di pintu lubang vaginanya. Dia mendesah kenikmatan.
Akhirnya aku dorong penis aku ke dalam vaginanya. Terasa agak sempit kerana baru 1/3 dari penis aku masuk. Perlahan-lahan aku tarik lagi dan aku dorong sekuat-kuatnya. Ketiga kalinya baru berhasil masuk sepenuhnya.
"Aawwhh..sakit, Jun!!"
Dia mengerang kesakitan. Maka aku berhenti sejenak nunggu rasa sakit dia hilang. Akhirnya aku mulai bergerak maju mundur. Semakin lama gerakan aku semakin cepat. Terasa penis aku bergesekan dengan dinding vaginanya. Kami berdua mengerang kenikmatan.
"Ahh..Nara..enakk!!"
"Mmhh..awwhh..Jun, terus, cepet lagi!"
Aku semakin bernafsu dan mempercepat genjotan aku. Akhirnya dia menjerit dan mengerang tanda keluarnya orgasme ke dua.
Lantas kami berdiri dan aku puter badannya hingga membelakangi aku (doggy style). Aku tundukkin badannya dan aku arahin penis aku ke arah vaginanya dan aku genjot sekali lagi. Kedua payudaranya berayun-ayun mengikut gerakan genjotan aku. Aku pun meremas-remas pantatnya yang mulus dan kemudian ke depan mencari putingnya yang sangat tegang. Kami berdua banjir keringat.
Aku puter putingnya semakin keras dan payudaranya aku remas-remas sekuat-kuatnya.
"Ahh, Arjun..aku pingin keluar..!!" jeritnya.
Terus aku percepat gerakan aku dan die menjerit untuk orgasmenya yang kali ketiga. Aku pikir-pikir aku ni kuat juga ya.. Tapi aku juga merasa mo keluar sekarang. Aku nggak sampai hati ngeluarin sperma aku di vaginanya. Langsung aku cabut penis aku dari vaginanya dan aku puter badannya. Aku arahin penis aku ke mulutnya yang langsung mengulum dan melumat penis aku maju mundur. Aku mengerang kenikmatan
"Akhh..Nar, aku keluar..!!"
Aku semburin sperma aku didalam mulutnya dan ditelannya. Sebagian mengalir keluar melalui celah bibirnya. Terus penis aku dibersihin dan dijilatin dari sisa-sisa sperma.
Kemudian aku ngeliat jam di meja. Pukul 5.30!! Mati kalau nggak cepet-cepet. Selepas kami memakai baju semula dia ngucap terima kasih ke aku.
"Makasih, Ron! Belum pernah aku ngrasa sebahagia ini. Sebenarnya dari pertama kali aku ngeliat kamu aku udah suka" Katanya.
"Oh, emang mungkin jodoh kali soalnya waktu ngeliat kamu di gerbang sekolah aku juga udah suka." kata aku.
"Tapi gimana dengan adik kamu?"
"Nggak apa-apa, dia juga nggak bakalan marah. Adik aku bentar lagi datang. Jadi latihan bareng nggak?"
"Nggak, ah. Males, udah letih latihan tadi" kata aku sambil tersenyum.
Dia pun balas tersenyum. Akhirnya aku balik rumah dengan perasaan gembira. Mimpi aku udah tercapai.
