Cerita Mesum Nyata kali ini menceritakan sebuah kisah yang tak kalah menariknya dengan cerita-cerita mesum sebelumnya. cerita kali ini berjudul "Bercinta dengan Pramugari Seksi". kisah ini menceritakan seorang pria yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pramugari seksi dalam perjalanan dinas pada saat dirinya bekerja. ingin tahu keseruan ceritanya? baca cerita selengkapnya dibawah ini.
Perkenalanku dengan Putri, seorang pramugari udara di
suatu perusahaan penerbangan nasional, hal ini terjadi dalam perjalanan panjang
dari Jakarta menuju Jayapura. Saat itu tengah malam, aku berusaha keras
untuk memejamkan mata, beristirahat sejenak dan menghilangkan kantuk
agar bisa melaksanakan tugas kantorku sesampainya di kota tujuan.
Kursi yang empuk berlapis kulit di kelas bisnis
pesawat Boeing 737 itu, tidak mampu memberikan kenyamanan yangg aku butuhkan.
Walau bagaimanapun, kursi itu dirancang sebagai tempat duduk, bukan
tempat untuk berbaring dan tidur.
saat aku akan terlelap, seketika kurasakan sebuah guncangan lembut di kursiku.
Seseorang duduk menghempaskan dirinya ke kursi kosong di sebelahku.
Dengan perasaan agak kesal, ku buka mataku dan berniat untuk menegurnya.
tiba-tiba saja, Pandanganku terpaku pada sesosok wanita berwajah cantik menarik, dengan
matanya yang terlihat mengantuk, tetap bening dan indah. Sebuah
senyum terlihat di bibir mungil yang merah, dan kemudian berkata perlahan
“… Maafkan saya Bapak, karena telah mengganggu tidur Bapak …”
Sambil tetap memandang dan mengagumi kecantikannya, aku berkata
“… Achh, tidak apa-apa. Saya belum tidur kok …”
Kami bersalaman, lalu kudengar ia menyebutkan namanya :
“… Putri …”
Hilang sudah kantuk ku. Terlebih lagi setelah kutahu bahwa Putri
adalah sosok wanita yang menyenangkan sebagai teman ngobrol. Ia bercerita
tentang suka dukanya sebagai pramugari udara. Tangan dan jarinya yg
lentik seakan menari-nari di udara, mengekspresikan ceritanya. Sesekali
ia menyentuh tanganku, dan tidak sungkan untuk mencubitku bila kuganggu.
Diam-diam kupandangi dan kuperhatikan seluruh bagian tubuhnya.
Tingginya kuperkirakan sekitar 160 cm, langsing dan sangat proporsional.
Putri memiliki tungkai kaki yang indah sempurna. Kulitnya yang putih
kontras sekali dengan seragam warna birunya. Payudaranya tidak terlalu
besar, namun terlihat kencang menantang. Membayangkan dirinya telentang
telanjang di tempat tidur, membuat kemaluanku bangkit, membesar dan
keras. Pikiran kotorku melayang jauh.
Kebersamaan kami terganggu oleh suara Kapten Pilot yang memberitahukan
bahwa pesawat akan mendarat di Biak, untuk mengisi bahan bakar dan
pergantian awak kabin. Setelah bersalaman dan sedikit basa basi, Putri
menghilang di balik tirai. Aku melanjutkan istirahatku, sampai kemudian
dibangunkan oleh pramugari udara lain, yang menawarkan sarapan pagi.
Hari-hari selanjutnya di ibukota propinsi paling timur Indonesia itu,
aku di sibukkan oleh tugasku sebagai Petugas Sosialisasi salah satu program
pemerintah. Sebagai
“Utusan Pusat”, aku sering diperlakukan seperti tamu agung, yang perlu dihibur dan dipenuhi segala kebutuhannya.
Aku ditempatkan di hotel Y….., yang merupakan hotel terbaik di kota itu. Beberapa tawaran untuk menyediakan
“teman tidur” kutolak secara halus. Aku takut tertular penyakit.
Waktu luang di luar tugas ku habiskan dengan berjalan kaki keliling
kota. Suatu kebiasaan yang selalu kulakukan dalam setiap perjalanan, untuk
lebih mengenal daerah baru. Kota Jayapura berada langsung di tepi laut
berair tenang. Pada malam hari, di sepanjang tepi pantai dapat ditemui
warung-warung yang menjual masakan laut, yang langsung digoreng atau dibakar
di tempat. Nikmat sekali. Disanalah biasanya kuhabiskan malamku.
Di sana pula pada suatu malam, aku kembali bertemu dengan Putri yang
sedang tidak bertugas, bersama dengan 2 orang teman seprofesi. Putri langsung
menawarkan untuk bergabung, begitu melihatku datang. Sungguh
menyenangkan berada di antara 3 gadis cantik, walau dapat kupastikan
bahwa kantongku akan terkuras untuk mentraktir mereka semua. Panggilan Bapak sewaktu di pesawat, berubah menjadi “Mas” hingga membuat malam
itu semakin akrab dan hangat.
Dari pembicaraan, kutahu bahwa mereka bertiga menginap di hotel yang
sama denganku. Selesai makan, kami berpisah. Di luar dugaan, Putri ingin
ikut denganku menikmati malam sambil berjalan kaki. Satu permintaan yang
sangat sulit ditolak. Kami pun berjalan perlahan sambil saling bertukar
cerita dan bercanda. Angin pantai membuat Putri kedinginan. Kulepas
jaketku, lalu kupasangkan di bahunya.
Kuberanikan diri merangkul bahunya, memberikan kehangatan tambahan
pada tubuhnya yang hanya dilapisi oleh T-Shirt tipis berwarna merah. Putri
tidak menghindar atau berusaha menolak, malah balas merangkul pinggangku.
Aku heran dengan gadis-gadis jaman sekarang. Semakin mudah untuk
menjadi sangat akrab, dan menganggap bahwa hubungan antara wanita dan
pria adalah biasa saja. Tidak ada lagi malu-malu atau sungkan, walaupun
masa perkenalan yang terbilang relatif singkat.
Kami berjalan bagaikan dua kekasih yang sedang bermesraan. Tanganku
tersapu oleh ujung rambutnya, dan sesekali kurasakan kepalanya menyandar
di bahuku. Birahiku terpicu, otak kotorku berpikir keras mencari akal
untuk membawanya ketempat tidur di kamar hotelku. Kelaminku mengembang
keras, membuatku merasa tidak nyaman karena terjepit oleh ketatnya celana
jeans yang kukenakan. Mulut kami berdua diam seribu basa, memberi
kesempatan untuk menikmati sentuhan kebersamaan dalam keheningan.
Langkah demi langkah membawa kami memasuki lobby hotel. Kuajak Putri
ke Coffee Shop, untuk menikmati secangkir minuman hangat sambil
menikmati musik hidup. Aku memilih tempat agak di pojok, agar tidak
terlalu menarik perhatian orang. Kuperhatikan sekeliling, beberapa
pasangan asik berpelukan, sedangkan beberapa gadis berpenampilan seronok
duduk sendirian. Inilah mungkin yang disebutkan oleh kawan-kawanku
sebagai “Ayam Manado”, sebelum aku berangkat beberapa hari lalu…
Tanganku tetap memeluknya, sementara Putri menyandarkan kepalanya di
dadaku. Kurasakan kakinya bergoyang perlahan mengikuti irama musik. Wangi
rambutnya membuatku ingin mencium kepalanya. Tapi, apakah ia akan marah?
Apakah ia akan tersinggung? Sejuta pertanyaan dan kekhawatiran muncul
dalam pikiranku.
Sementara di sisi lain, otakku masih terus berputar mencari akal
untuk membawanya ke kamarku malam ini. Jantungku berdebar keras,
sementara kelaminku semakin besar dan keras. Musik dan suasana romantis
tempat itu tidak lagi menarik untukku. Bagaimana dan bagaimana… pertanyaan
itu yang terus menerus muncul.
Perlahan kucium ubun-ubun kepalanya, sambil berkata :
“… Putri, sudah malam, kita bobo yuk …”
Ia hanya mengangguk sambil berdiri. Setelah menyelesaikan pembayaran,
kami berjalan menuju lift. Tanganku masih merangkul bahunya, walaupun
ia tidak lagi memeluk pinggangku. Kutekan tombol angka 3, untuk menuju
lantai dimana kamarku berada. Aku sengaja tidak bertanya di lantai berapa
ia tinggal, dan ia pun hanya diam saja. Putri juga tidak berusaha untuk menekan
tombol lain. Dalam hati aku bertanya-tanya, jangan-jangan kamarnya satu
lantai dengan kamarku.
Sambil menyender ke dinding lift, kutarik ia dan kusandarkan
membelakangiku. Kupeluk ia dari belakang, sambil sesekali kucium rambut
kepalanya. Jantungku berdetak semakin cepat, sementara kelaminku semakin
sakit terhimpit celana jeansku yang cukup ketat. Mudah-mudahan pantatnya
yangg tepat menempel ke kelaminku tidak merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
Pikiranku masih bertanya-tanya, mau…? tidak…? mau…? tidak…? sampai kemudian
pintu lift terbuka.
Sambil terus berada dalam pelukanku, kubimbing dia menuju kamarku.
Tidak ada perlawanan atau penolakan kurasakan. Setan yang berada dalam
pikiranku menjerit senang. Malam ini akan terjadi pergumulan birahi yang
panas. Dalam hati aku berniat untuk memberikan kepuasan yang tidak
terbendung padanya, seperti yang biasa kuberikan dalam
petualangan-petualangan asmaraku, termasuk pada istriku tercinta…
Begitu pintu terkunci, sambil tetap berdiri kupeluk dan kucium
bibirnya dengan lembut walaupun penuh nafsu. Putri membalasnya dengan
tidak kalah ganasnya. Lidah kami bertemu, saling berpagutan dan berkaitan.
Kutelusuri geligi dan langit-langit mulutnya dengan lidahku yang cukup
panjang, kasar dan hangat.
Putri merintih lirih :
“…Aaaccchhh…”
Tangan kananku perlahan mengusap dan menelusuri punggungnya yang masih
terbalut T-Shirt, sementara jacketku sudah lama terlempar jatuh. Dari
leher, perlahan turun ke bawah, ke arah pinggang mencari ujung kaos,
lalu kembali ke atas melalui sisi bagian dalam. Kurasakan kulit
punggungnya sangat halus dan mulus. “…Klik…”, tanganku ynag sudah sangat
terlatih berhasil melepas pengait BH-nya dengan sangat hati-hati.
Dengan kedua tangan, perlahan kutarik kaos itu ke atas sampai
terlepas sama sekali. Dengan perlahan dan hati-hati, kedua tanganku
segera bergerilya menelusuri kedua bahunya, pangkal lengannya, pindah ke
pinggang, perut, perlahan ke atas menuju payudaranya. Sementara itu,
kedua tangannya telah berhasil membuka Polo Shirt yang kukenakan. Tanganku
sudah hampir sampai ke payudaranya, ketika tiba-tiba ia mendorongku
perlahan.
“… Maaf Mas, Putri pipis dulu yha …” katanya sambil berjalan membelakangiku menuju kamar mandi.
Kuperhatikan kulit punggungnya yang putih dan mulus, nyaris tanpa
cacat. Pinggul rampingnya yang masih terbalut celana jeans, terlihat
semakin indah dan merangsang. Tidak sabar rasanya untuk segera melumat
tubuhnya, membawanya mengawang tinggi menuju tingkat kenikmatan yang tidak
terkira…
Sementara menunggu, aku tersadar bahwa aku belum membersihkan diri.
Kebiasaan yang selalu kulakukan sebelum bercinta dengan wanita manapun.
Aku selalu menjaga kebersihan, dan berusaha untuk menggunakan
wangi-wangian beraroma lembut, yang kuyakini dapat meningkatkan gairah
wanita. Dari kamar mandi terdengar gemericik air, yang menandakan Putri
juga sedang membersihkan dirinya.
Ternyata Putri termasuk tipe wanita yang kusukai, selalu membersihkan
diri sebelum bercinta. Walau dalam keadaan birahi tinggi, aku tetap
merasa terganggu dengan bebauan yang kurang sedap, dari kelamin wanita yang
tidak bersih. Kubuka dompetku, lalu kuambil karet pengaman merk terkenal
yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Kusisipkan ke bawah bantal tempat
tidur, agar mudah mengambilnya pada saat dibutuhkan nanti…
Putri keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya terbalut handuk. Rupanya dia benar-benar mau dan bersedia bercinta denganku.
“…Sebentar sayang, sekarang giliranku untuk membersihkan diri…” kataku sambil mencium keningnya lalu berjalan ke kamar mandi.
Sayup-sayup kudengar suara TV yang baru dihidupkan olehnya. Setelah
menggosok gigi dan berkumur dengan larutan antiseptik, kubersihkan
kemaluanku dan sekitarnya dengan sabun. Siraman air dingin tidak mampu
mengurangi kekerasannya. Kemaluanku tetap mengacung gagah, besar dan
berurat.
Putri sedang duduk di pinggir tempat tidur, saat aku keluar dari kamar
mandi, juga dengan hanya terbalut handuk. Kuhampiri dirinya, ia berdiri
lalu kami berciuman. Dari mulutnya tercium aroma obat kumur antiseptik
milikku, membuatku semakin terangsang.
Tangannya membuka belitan handuk di pinggangku, membuat kemaluanku
terbebas lepas, mengacung besar dan keras. Perlahan tangannya menyentuh
pusarku, perutku, lalu perlahan turun ke bawah. Putri mengusap-usap
rambut kemaluanku yang cukup lebat, sebelum kemudian mengelus dan
menggenggam lembut batang kebanggaanku itu. Jemari tangannya yang halus,
menimbulkan rasa nikmat yang amat sangat. Tanpa kusadari, akupun merintih
perlahan
“…Aaaccchhhh…”
Kulepas handuk yang melilit tubuhnya, kemudian perlahan tapi pasti
kedua tanganku merambat perlahan menuju kedua bukit kembarnya yang halus
dan putih. Setelah kutelusuri inci demi inci, kuremas lembut, dan
kujepit puting susunya dengan jari, lalu kupelintir sambil sesekali
kutarik. Kubuka mataku, menikmati parasnya yang cantik. Matanya tertutup
sementara bibirnya terbuka sedikit, sungguh seksi dan merangsang.
Putri melepas ciumannya, kemudian perlahan menciumi tubuhku. Dari
dagu, leher terus ke dadaku, kemudian mengulum dan menggigit perlahan
puting kecil di dadaku. Aku hanya mampu mendongak, menikmati sensasi yang
tidak terkira. Dengan lidahnya yang hangat, ditelusurinya tubuhku perlahan
turun ke arah perut, menciumi pusar, lalu terus turun. Tidak sabar aku
membayangkan kenikmatan apa yang akan kuterima selanjutnya. Perlahan,
diciumnya kepala kemaluanku yg memerah, kemudian dimasukkannya ke
mulutnya, sampai menyentuh tenggorokannya. Bukan main nikmatnya.
“… Uuuhhhh…. hhhhh…. aaaaccchhhh… hhhhh….” Aku cuma sanggup merintih nikmat.
Perasaan nikmat dan mendesak kuat ingin keluar, kutahan sebisanya.
Aku hampir mencapai titik kenikmatan tertinggi, dan itu tidak boleh
terjadi secepat ini. Harus kuhentikan !! Kupegang kepalanya, kemudian
kutarik tubuhnya perlahan.
“…Adddduuuhhh, nikmat sekali Putri, nikmat sekali…” kataku sambil kemudian mencium bibirnya.
Lidah kami berkait dan bertaut dengan ganas, membuat nafasnya semakin memburu…
Sambil tetap berciuman, kubimbing ia menuju tempat tidur. Kurebahkan
tubuhnya, lalu kutindih ia dengan tubuhku. Kulepaskan ciumanku dari
bibirnya. Kucium keningnya, kedua matanya, pipinya, dagunya, dan kedua
telinganya bergantian. Nafasnya semakin memburu, sementara jari-jari
kedua tangannya meremas rambutku.
Dengan lidah, kumulai penelusuran tubuhnya melalui leher. Perlahan
turun, menuju belahan dadanya, kemudian naik ke puncak bukit indah
miliknya. Kukitari puting susunya, sebelum kukulum dan kuhisap dengan
mulutku. Sementara itu, tangan kananku yang bebas meremas dan
mempermainkan puting susu sebelahnya. Putri meracau tidak jelas, sementara
kuku jarinya mulai menghunjam kulit kepalaku….
“…Adddduuuuhhhh Massz… Aaaaccc…. yhhaaaaa…. hhhhh…..”
Puas bermain di payudaranya, kulanjutkan penelusuran semakin ke
bawah, menuju kemaluannya. Aku memposisikan tubuhku di antara kedua
kakinya yang terbuka. Kemaluannya terlihat basah dan lembab. Bulu-bulu
halus yang tidak terlalu lebat, tertata rapi dan hitam, kontras sekali
dengan warna kulitnya yang putih mulus. Dengan jari tengah, kuusap dan
kumainkan klitorisnya. Pinggangnya terangkat, membuat tubuhnya
melengkung. Perlahan, kuciumi kemaluannya yang wangi, kujulurkan lidahku,
lalu kumainkan klitorisnya. Aku sempat melihat kepala Putri yang terlempar
ke kiri dan ke kanan menahan nikmat. Jari jemarinya semakin ganas
meremas kepalaku.
“…Aaaawwwww…. Aaaaccchhh… yhaaaaa… yhaaa… yhaaa… aaaccchhh… hhhh….
aaadddduuuhhhh…. tttterrrussss… terus !! ach… ach… ach… Aaaaaaaaahhh…”
Kedua pahanya menjepit kuat kepalaku, kemudian tergeletak lemas. Kutahu Putri telah mencapai puncak kenikmatannya.
“… Itu baru yang pertama sayang, rasakan dan nikmati yang selanjutnya …” kataku dalam hati.
Tidak berlama-lama, dengan perlahan dan sangat hati-hati, kumasukkan
jari tengah tangan kananku ke dalam rongga kewanitaannya. Tidak ada yang
menghalangi, menandakan Putri sudah tidak perawan lagi. Tidak mengapa, malah
lebih baik pikirku. Aku jadi tidak memperpanjang dosaku memerawani anak
orang lagi…
Kusentuh seluruh dinding rongga yang halus dan hangat itu dengan ujung
jariku. Kadang kutekan sedikit keras, membuat nafsu birahinya kembali
bangkit. Dengan posisi telapak tangan mengarah ke atas, kutekuk jariku
menyentuh dinding rongga bagian atas. Kulanjutkan penekanan di beberapa
tempat, sambil kuperhatikan reaksi tubuhnya.
“… Awww, aduh, Mas, maaf… rasanya ingin pipis lagi…” katanya tiba-tiba.
“…Sayang, tahan dan bernafaslah dengan teratur. Aku akan memberimu kenikmatan yang lain. Relaks saja dan nikmati…” Kutekan-tekan jariku berulang-ulang pada titik tersebut hingga menyerupai getaran.
“…Sayang, tahan dan bernafaslah dengan teratur. Aku akan memberimu kenikmatan yang lain. Relaks saja dan nikmati…” Kutekan-tekan jariku berulang-ulang pada titik tersebut hingga menyerupai getaran.
Kepalanya kembali terlempar kekiri dan kekanan. Matanya terbelalak ke
atas, hinggga hampir tidak terlihat bagian hitamnya. Tangannya telentang
pasrah, masih lelah dan lemas.
“… Aaaacchhh… Aaaaccchhhh… Aaaaccchhh…” erangannya semakin keras.
Perlahan kuposisikan kepalaku di depan kewanitaannya, kujulurkan
lidahku, kemudian kuelus, kumainkan dan kupelintir sambil sesekali
kumainkan klitorisnya. Putri teriak tdk tertahankan
“….AAAAAACCCCHHHH…. YYYHHHAAAA… YYYHHHAAAA…. Ampuuuunnnnn…. Aaaaccchhhhh….”
Tangannya kembali buas meremas kepalaku, sementara kedua pahanya
kembali menjepit kepalaku dengan kuat. Punggungnya terangkat tinggi
membuat tubuhnya melengkung. Kulanjutkan penekanan pada titik bagian
atas rongga kewanitaannya, sambil lidahku terus mengelus, memelintir dan
mempermainkan klitorisnya. Tiba-tiba Putri terduduk, dengan kasar
ditariknya kepalaku yang sedang asik bermain di kewanitaannya, lalu
digigitnya bibirku. Sakitnya cukup lumayan, tetapi kubiarkan saja.
Kutahu ia hampir mencapai puncak kenikmatannya yg kedua. Dengan
mengerang keras
“….AAAAAACCCHHHHHHHH…”
Tubuhnya mengejang lalu terlempar keras ke belakang, ke atas kasur
tempat tidur. Rongga kewanitaannya terasa mendenyut-denyut, menjepit
erat jari tengahku yang masih berada di dalam. Tidak lama kulihat tubuhnya
mulai melemas. Telentang pasrah telanjang di atas tempat tidur. Aku
berdiri menuju meja, menuangkan air putih dingin ke dalam gelas.
Kuteguk, kemudian kuberikan padanya setelah kembali kuisi penuh. Sambil
menatapku, kulihat matanya menyiratkan kepuasan yang amat sangat, walaupun
lelah. Aku paling senang melihat wajah wanita pasca orgasme, terlihat
semakin cantik.
Belum sempat gelas itu kuletakkan, masih dalam keadaan berdiri di
sisi tempat tidur, Putri menarik, mengelus kemudian mengulum batang
kemaluanku dengan rakus, membuatnya kembali membesar dan keras. Dengan
lidahnya, dijilatinya bagian bawah batangku itu, menimbulkan kenikmatan
yg amat sangat.
Setelah aku meletakkan gelas, kudorong lalu kutindih tubuhnya. Mulut
kami kembali berciuman, sementara satu tangannya memainkan batang
kemaluanku. Tidak tahan dengan perlakuannya, tanganku masuk ke bawah
bantal, mencari-cari karet pengaman yang sudah kusiapkan tadi. Kurobek
bungkusnya, lalu kuberikan padanya. Di luar dugaan, dibuangnya benda
itu, sambil berbisik ke telingaku “…Mas, aku baru saja selesai Mens dua
hari lalu, jadi amaaannn…”
Bukan main, gadisku ini betul-betul tau apa yg terbaik.
Kubimbing kemaluanku dengan tangan, kugosok-gosokkan, kemudian secara perlahan kuturunkan pinggulku, menusukkan batang yg besar, keras dan padat itu ke dalam rongga kewanitaannya yang lembut dan hangat. Kuku jemarinya menancap keras di punggungku, dan kudengar rintihannya
Kubimbing kemaluanku dengan tangan, kugosok-gosokkan, kemudian secara perlahan kuturunkan pinggulku, menusukkan batang yg besar, keras dan padat itu ke dalam rongga kewanitaannya yang lembut dan hangat. Kuku jemarinya menancap keras di punggungku, dan kudengar rintihannya
“… Hhhhkkkkk…..hhhhh…. AAACCHHH…. hhhh….”
Kulihat alis matanya mengkerut sementara kedua matanya tertutup
rapat. Kurasa ia agak kesakitan dimasukki oleh batang yang begitu besar,
panjang dan sekeras batu. Perlahan tapi pasti, inci demi inci batang itu
menguak masuk. Aku merasa sudah menyentuh dasarnya pada saat batangku
belum masuk seluruhnya. Putri merintih
“…Adddduuuuhhhh…” tapi aku tidak peduli.
Perlahan dan hati-hati kutekan dan kutekan terus sampai masuk
seluruhnya. Kudiamkan beberapa saat hingga Putri terbiasa, sebelum
kupompa keluar masuk. Kedua tanganku menopang tubuhku agar tdk
menindihnya terlalu keras, sementara pinggulku giat bergerak maju mundur
berulang-ulang. Putri merintih semakin keras
“…Accchhhh…. yhhaaa… yhaaa… yhaaa… hhhhh… Awwwww… hhhkkkk….”
Tubuhnya bergoyang ke atas ke bawah, terdorong oleh tusukkan dan goyangan
pinggulku. Rambutnya berantakan tergerai di atas bantal, sementara
matanya tertutup rapat. Mukanya sudah terlihat santai, tanda ia sudah
dapat menikmatinya. Sesekali kucium bibirnya yang terbuka sedikit,
memperlihatkan geliginya yang putih tersusun rapi, sunggung menggairahkan.
Butir-butir keringat mulai bercucuran di tubuhku, juga di tubuhnya. Di
belahan dada diantara kedua payudaranya yang bergoyang, kulihat titik-titik
keringat bermunculan. Sungguh pemandangan yg seksi dan menggairahkan.
Entah berapa lama dalam posisi itu, tiba-tiba aku ingin mencoba
posisi yg lain. Kutarik kedua kakinya dan kuletakkan di pundakku. Putri
protes “… Addduhhh Mazzzz, sssaakkiiittt…” Tdk terlalu kupedulikan,
kupompa terus keluar masuk, berputar, maju mundur, mulanya perlahan lalu
semakin cepat. Putri merintih menahan nikmat
“… Aaaachhhh…. Yhaaa… Yhaaa… Ttttteeerruuusssss… tterusss… ach… ach… ach… ach… AAAAACCCHHHHH…”
Kurasakan denyutan berulang-ulang dari rongga kewanitaannya. Putri
sudah sampai ke puncak kenikmatan. Aku berkonsentrasi merasakan sensasi
kenikmatan yg ditimbulkan oleh gesekan batang kemaluanku dengan rongga
kewanitaannya, kupompa semakin cepat… semakin cepat… semakin cepat… dan
dengan disertai erangan panjang
“…AAAAACCCCHHHHHH….” kutusukkan kemaluanku sedalam-dalamnya, kemudian kusemprotkan cairan kenikmatan sebanyak-banyaknya.
Aku pun ambruk menimpa tubuhnya…. Putri memelukku dengan erat.
Sambil kucium pipinya, aku berkata
“… Terima Kasih sayang, kamu hebat sekali …”
Putri membuka matanya, mencium bibirku lama, dan balas berkata
“… Sama-sama Mas… enak sekali Mass… ampuuunnn, nikmat sekaliii, tapi capek. Putri nggak kuat lagi…”.
Malam itu kami tidur berpelukan sampai pagi. Kami melakukannya lagi
di kamar mandi, walau tdk seganas malam sebelumnya. Putri harus segera
berangkat menunaikan tugasnya sebagai Pramugari Udara, sementara aku
masih harus bertugas menjelaskan program pemerintah yg kusosialisasikan.
Kami berpisah, dan berjanji untuk ketemu lagi… Entah kapan…
