Kira-kira di bulan ketiga aku menjadi instruktur, aku mendapat murid
yang mengambil kelas privat untuk Microsoft Office for Beginner.
Sebetulnya aku paling malas mengajar beginner di kelas privat. Toh kalo
cuma pengenalan ngapain mesti privat. Kalo advanced sih ketauan. Hampir
saja aku tolak kalau waktu itu aku tidak melihat calon muridku tersebut.
Namanya Nancy, siswi kelas tiga SMU di salah satu sekolah swasta yang
cukup borju di Jakarta. Secara tak sengaja aku melihatnya mendaftar
diantar maminya, saat aku mau mengambil beberapa CD di ruang
administrasi.
Tubuh Nancy terbilang tinggi untuk gadis seusianya, mungkin sekitar
168 cm (aku mengetahuinya karena saat dia berdiri tingginya kira-kira
sedaguku, sementara tinggiku 182 cm) dengan berat mungkin 45-an kg.
Kulitnya putih bersih, wajahnya oval dengan kedua mata yang cukup tajam,
hidung yang mancung dan bibir yang mungil. Rambut coklatnya yang
dihighlight kuning keemasan tergerai sebatas tali bra.
Nancy cukup cepat menangkap materi yang kuberikan. Materi beginner
yang sedianya diselesaikan 24 session, dituntaskan Nancy hanya dengan 19
session. Apa boleh buat, sisa waktu yang ada hanya bisa kugunakan untuk
memberinya latihan-latihan, karena kebijakan dari lembaga pendidikan
tidak memperbolehkan murid mengakhiri term meskipun materi telah
selesai.
Aku juga tidak diperbolehkan memberi materi yang lebih dari kurikulum
yang diambil si murid. Ya sudah, aku hanya menjaga integritas saja.
Di sisa session, sambil latihan aku banyak mengobrol dengan Nancy.
Gadis manis itu sangat terbuka sekali denganku. Nancy cerita mulai dari
keinginannya kursus untuk persiapan kuliah di bidang kesekretarisan
nanti
Tentang pacarnya, keluarganya yang jarang memberinya perhatian karena
kedua orang tuanya sangat sibuk, sampai urusan… ehm seks. Aku cukup
terkejut saat mengetahui bahwa Nancy sudah mulai berhubungan seks
semenjak kelas tiga SMP dengan pacarnya yang berusia 7 tahun lebih tua
darinya.
Semenjak itu Nancy merasa ketagihan dan selalu mencari cara untuk
memuaskan nafsunya. Dia pernah pacaran dengan 4 cowo sekaligus hanya
untuk mendapatkan kepuasan seksnya.
Kami saling bertukar cerita. Dan Nancy juga terkejut ketika
mengetahui bahwa hubungan badanku yang pertama malah dengan ibu kost.
Kami pun banyak bertukar pengalaman. Sampai akhirnya Nancy telah
menyelesaikan term kursusnya, kami tetap kontak lewat telephone.
Suatu ketika Nancy memintaku untuk mengajar di rumahnya. Rupanya
setelah mahir menggunakan Microsoft Office, banyak teman-teman
sekolahnya yang tertarik ingin belajar juga. Nancy pun menawarkan mereka
untuk ‘main belakang’.
Karena biaya kursus di lembaga tempatku mengajar cukup mahal, Nancy
mengajak teman-temannya untuk membayarku mengajar di rumahnya dengan
separuh harga. Sementara mereka minta kepada orang tua mereka harga
kursus di lembaga.
Nancy and the gank ada enam orang termasuk Nancy sendiri. Dan aku
baru tahu bahwa mereka korban kesibukan orang tuanya masing-masing. Yah,
tipikal anak-anak metropolitan yang diberi kasih sayang hanya dengan
uang. Angie, Vanya, Sisil, Lala dan Ike adalah teman-teman sekolah
Nancy. Seru juga ngajarin mereka. Kadang aku mesti meladeni candaan
mereka, atau rela menjadi bahan ledekan (karena hanya aku yang cowo).
Hari itu baru jam 11 ketika Nancy meneleponku. Dia memintaku untuk
datang lebih cepat dari waktu belajar biasanya. Aku oke-oke saja karena
waktunya memang cocok. Jam 2 aku sudah berada di rumah Nancy.
“Tumben Nan, jam segini udah nyuruh gue dateng.” tanyaku.
“Iya, lagi bete…” jawabnya dengan wajah agak kusut. Aku mengacak-acak rambutnya pelan, lalu mencubit hidungnya.
“Kenapa nih? Cerita dong…” Nancy tersenyum sambil mencubit
pinggangku. Tiba-tiba gadis itu menarik lenganku dan mengajak ke kamar
tidurnya.
“Hei..hei.. apa-apaan nih..” seruku.
“Nggak apa-apa hihihi….” Nancy terus menarikku hingga ke atas
ranjangnya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera merengkuh tubuh
langsingnya yang terbungkus kaus ketat dan celana pendek. Aku lumat
bibir mungilnya yang lembut.
“Mmmhh… mmm…” bibir kami Saling melumat. Nancy kelihatan asyik sekali
menikmati bibirku. Kedua tangannya sampai meremas rambutku. Sementara
kedua tanganku masuk dari bawah kaus untuk merengkuh payudaranya yang
masih terbungkus bra.
Ugh.. bulat sekali, bentuknya betul-betul sempurna. Aku meremas-remas
payudara Nancy. Gadis itu semakin bernafsu. Lidahnya semakin liar
menjelajahi mulutku, dan remasan tangannya semakin erat.
Tanpa aku minta Nancy melepas sendiri kaus yang ‘mengganggunya’
berikut dengan bra-nya. Hmm.. terlihat jelas sudah dua gundukan
payudaranya yang bulat dan montok. Yang aku heran kenapa kedua puting
susunya masih berwarna merah muda.
Padahal Nancy cerita bahwa dia sudah sering sekali berhubungan badan.
Tanpa ampun aku langsung menyambar payudaranya dengan mulutku. Lidahku
menari-nari lincah mengikuti lekukan payudaranya yang indah.
“Sshh.. Riiooo….. aaahhh…” Nancy mendesah keasyikkan. Kepalaku
dipeluk erat ke dadanya. Upss.. hampir aku sesak nafas dibuatnya.
Lidahku terus bermain di kedua payudaranya. Juga putingnya. Hhmm..
nikmat sekali, putingnya betul-betul kenyal. Aku menggigitinya
pelan-pelan untuk memberikan sensasi di puting Nancy.
“Aahh.. Yoooo….” tubuh Nancy menggelinjang menahan rasa nikmat. Kami
saling berpelukan erat, dan tubuh kami bergulingan tak karuan di atas
ranjang. Gairah Nancy semakin memuncak. Dengan liar gadis itu mencopoti
semua kancing bajuku dan menanggalkannya dari tubuhku.
“Uuhh.. awas ya, sekarang gantian..” katanya. Aku diam saja ketika
Nancy dengan penuh hasrat melepas celana panjang dan celana dalamku.
Tubuhku sudah bugil tanpa busana.
Dengan penuh nafsu, Nancy langsung menyambar batang penisku yang
mulai mengeras, dan mengisapnya. Aku tersenyum melihat gayanya yang
buas. Aku sedikit memiringkan tubuhku agar bisa mencapai celana
pendeknya.
Tanpa kesulitan aku melepas celana pendeknya dari tubuh Nancy,
sekaligus dengan celana dalamnya. Hmm.. paha gadis itu benar-benar putih
dan mulus. Aku segera merangkul kedua pahanya untuk melumat kemaluan
Nancy yang tersembunyi di pangkal pahanya.
Kami ‘terjebak’ dalam posisi 69. Dengan liar lidahku menjelajahi
permukaan vagina Nancy. Jemari-jemariku membantu membeleknya. Aahh..
aroma khas itu langsung tercium. Aku langsung mengulum klitoris Nancy
yang seolah melambai padaku.
“Uughhhh.. aahhh… Yooo…. gila lo…. aahhh…” Nancy sampai menghentikan
kulumannya di penisku untuk meresapi kenikmatan yang kuberikan di
vaginanya. Aku tak mempedulikan desahan Nancy yang keasyikan, lidahku
semakin liar menjelajahi vaginanya. Klitoris Nancy sampai basah
mengkilat oleh air liurku.
Tak tahan oleh kenikmatan yang kuberikan lewat mulut, Nancy segera
bangkit dari posisinya dan memutar tubuhnya yang indah. Dalam sesaat
saja tubuh putih mulus itu telah menindih tubuhku. Kedua tangannya
bertumpu di ranjang mengapit leherku.
“Come on Yo.. give me the real one…. ssshhhh…” desahnya penuh nafsu
sambil mendekatkan vaginanya ke batang penisku. Aku membantunya dengan
menuntun penisku untuk masuk ke dalam liang kenikmatan itu. Ssllppp…
bbleeessss…
“Sshh… sshhh…. oooohhh…. Yoo….” Nancy merintih keasyikan seiring
dengan tubuhnya yang naik turun. Sementara kedua tanganku asyik
memainkan kedua puting susunya yang kenyal. Bibir mungil Nancy yang
terus mendesah kubungkam dengan bibirku. Lidahku bermain menjelajahi
rongga mulutnya.
Tubuh Nancy mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan dari segala arah. Pantatnya semakin cepat naik-turun.
Dengan gemas aku memeluk tubuh indah itu, dan berguling ke arah yang
berlawanan. Sekarang aku yang menguasai permainan. Nancy merentangkan
kedua belah kakinya yang putih mulus itu. Tanpa ampun aku kembali
menghujamkan batang penisku yang sudah basah ke dalam vaginanya.
Nancy kembali merintih tak karuan. Sementara kedua tanganku
bergerilnya menjelahai pahanya yang mulus. Dengan jemariku aku berikan
sensasi di sekitar paha, pantat dan selangkangan Nancy. Tubuh Nancy
semakin menggelinjang. Gadis itu tak kuasa lagi menahan nikmat yang
dirasakannya. Dinding vaginanya mulai berdenyut.
“Riooo… sshhhh…. aahhhhh….” akhirnya Nancy mencapai klimaksnya.
Cairan kewanitaannya membanjiri penisku di dalam sana. Tubuhnya langsung
tergolek pasrah. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tiba-tiba Nancy
merengkuh leherku dan mendekatkan ke wajahnya.
“Awas ya, bentar lagi tunggu pembalasan gue..” desahnya dengan nada menantang.
“Coba kalo bisa, gue mau liat…” jawabku balik menantang seraya
mengecup bibirnya. Kemudian kami bersih-bersih bersama di kamar mandi.
Aku dan Nancy mengulangi lagi permainan tadi di kamar mandi, dan untuk
kedua kalinya gadis manis itu mencapai klimaksnya.
Sekitar jam setengah empat sore sebenarnya waktu belajar akan
dimulai, namun Nancy memaksaku untuk melakukannya sekali lagi di
ranjangnya. Gadis itu penasaran sekali karena aku belum mencapai
klimaks. Semula aku menolak karena takut sebentar lagi yang lain datang.
Namun Nancy membungkam mulutku dengan puting susunya. Apa boleh buat,
kami kembali melanjutkan permainan.
Benar saja, sepuluh menit sebelum jam empat tiba-tiba pintu kamar
terbuka. Rupanya kami baru sadar kalau pintu depan dari tadi tidak
dikunci. Sisil dan Ike yang baru saja datang langsung nyelonong ke kamar
setelah tidak mendapatkan Nancy di ruangan lain.
“Hei… gila lo berdua..!!!!” Sisil menjerit heboh. Aku dan Nancy yang
sedang dalam posisi doggie style terkejut dengan kedatangan mereka. Aku
menatap Nancy dengan bingung, tapi gadis itu tenang-tenang saja.
“Aduh Nan, lo kok gak bilang-bilang sih kalo mo barbequean… ajak-ajak
dong..” cetus Ike tak kalah hebohnya. Nancy menanggapi dengan tenang.
“Udah nggak usah ribut, lo join aja langsung sini..” tanpa dikomando
dua kali kedua gadis itu langsung melepas pakaiannya dan bergabung
dengan aku dan Nancy di ranjang. Hmmm… aroma sabun dan shampoo yang
masih segar segera tercium karena mereka berdua baru saja mandi.
Entah kenapa hari itu Angie, Vanya dan Lala kebetulan tidak datang.
Angie sempat menelpon untuk memberitahu bahwa dia harus mengantar
kakaknya ke dokter. Vanya ada acara weekend dengan keluarganya, sehingga
harus berangkat sore itu juga. Sedangkan Lala tidak ada kabar.
Hari itu otomatis tidak ada session. Kami berempat bersenang-senang
di kamar Nancy sampai menjelang malam. Aku sempat tiga kali mencapai
klimaks. Yang pertama saat dengan Nancy, tapi aku harus membuang
spermaku di mulutnya karena Nancy tidak mau ambil resiko.
Klimaks yang kedua ketika Ike dan Nancy melumat batang penisku
berdua. Aku betul-betul tak tahan saat mulut mereka mengapit batang
penisku dari sisi kiri dan kanan. Dan yang terakhir aku tuntaskan di
dalam vagina Sisil.
Semula aku akan mencabut penisku untuk mengeluarkan spermaku di luar.
Namun Sisil yang sudah kepalang nafsu malah mempererat pelukannya di
tubuhku, hingga akhirnya spermaku menyembur di dalam. Dan pada saat yang
bersamaan Sisil juga mencapai klimaksnya.
Setelah makan malam, Sisil dan Ike menelpon ke rumah masing-masing
untuk memberitahu bahwa mereka menginap. Dan kami pun mengulangi
kenikmatan-kenikmatan itu semalam suntuk. Di rumah Nancy betul-betul
bebas, sehingga permainan kami berempat betul-betul variatif.
Kadang di ranjang, di ruang tamu, di sofa, di meja makan, di kamar
mandi, di kolam renang. Yang paling gila waktu Ike mengajakku bermain di
gazebo kecil yang dibangun di halaman belakang rumah Nancy. Waktu itu
sudah jam 1 pagi. Asyik sekali ditemani hawa dingin kami saling
menghangatkan.
Malam itu aku betul-betul akrab dengan Sisil dan Ike. Tak seperti
sebelumnya, meskipun akrab namun mereka masih menganggapku seperti guru
mereka, jadi masih ada rasa segan. Dari obrolan kami, aku mengetahui
bahwa sebetulnya mereka berenam sama-sama pecandu seks.
Nancy cerita bahwa mereka sering sekali ngerjain anak-anak kelas satu
yang baru di sekolah mereka. Rumah Nancy ini sering sekali dijadikan
ajang pesta seks mereka. Aku sampai geleng-geleng mendengar kegilaan
mereka.
Hari-hari berikutnya aku jadi akrab dengan mereka berenam. Di
kesempatan lain aku berhasil menikmati tubuh keenam abg itu pada hari
yang sama. Hubungan aku dan mereka sempat berlangsung lama, hingga
akhirnya setelah mereka lulus sekolah dan mereka saling berpencar.
Vanya, Sisil dan Lala melanjutkan studi mereka ke Aus, sedangkan Ike
memilih belajar di USA, Angie dan Nancy sama-sama ke Singapore. Tapi
kami masih kontak via chat dan email. Beberapa bulan lagi rencananya
mereka akan sama-sama pulang ke Indonesia, dan kami sudah mempersiapkan
rencana pesta yang luar biasa.
